Akupun sangat ingin Melupakanmu

“Dian, kita berpisah!”  seuntai kalimat perpisahan yang dua hari lalu diucapkan oleh Kang Rizki masih tetap menghantui hatiku. Kata-kata yang sangat kutakutkan meski sudah kukhawatirkan sebelumnya akan keluar dari mulut seorang pria yang sangat aku sayangi ini. Setelah mengucapkan kata itu dia mengantarku pulang.

Awal perjumpaan kami yang sangat berkesan di kebun Teh wilayah desa Cagak*  setahun lalu tanpa disengaja. Kala itu, aku sedang ingin menikmati indahnya kawasan Subang sendirian. Berjalan memutari panorama kebun teh yang pastinya tidak akan membosankan. Kala itu, aku masuk kebun terlalu jauh sehingga tidak tahu dimana jalan kembali. Sudah hampir setengah jam mengelilingi kebun yang seharusnya sudah terkategori hutan, aku belum menemukan jalan keluar. Kelelahan membuatku berhenti dan duduk di sebatang kayu. Meskipun cemas, suasana kebun teh dan panoramanya tetap membuat hatiku tetap teduh dan kembali tenang. Dari jauh kulihat sesosok pria sambil membawa kamera SLR mendatangiku.

“Kamu tersesat yah?”

“Iya kang, saya tersesat..  tadi masuknya dari jalan raya Tangkuban tapi kok sekarang malah gak kelihatan”

“oh, soalnya jalannya ada di balik bukit itu, kalo mau ayo bareng saya, soalnya saya juga parkir motor disana!”

Kemudian akupun berjalan di belakangnya, mengikutinya memutar bukit tersebut. Tidak tahu mengapa, padahal aku adalah orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain, apalagi seorang pria. Namun, pria yang satu ini dengan keteduhan suara dan wajah yang tidak hanya tampan namun kharismatik seolah-olah mengatakan bahwa orang ini tidak pernah berbohong.

Alhamdulillah, ternyata benar. Di belakang bukit itu jalan raya Tangkubannya. Sambil mengucapkan terima kasih aku mulai melangkah pergi menuju tempat pemberhentian untuk menunggu angkutan yang biasanya kalau sudah menjelang maghrib seperti ini akan sulit mendapatkannya.

Namun, “Neng, sekarang udah mau maghrib, angkutan juga agak mustahil ditemui, mendingan saya antar saja, tapi kita sholat dulu di mesjid di Cikole karena itu yang paling dekat disini. Tujuannya ke Bandung kota teu*?” Kang Rizki kali ini lagi-lagi menjadi pria penolong bagiku. Dengan malu-malu akupun naik ke motornya. Perjalanan dihentikan ketika azan maghrib sudah berkumandang dan saat itu kami menemukan sebuah mesjid. Mesjidnya kelihatan masih dalam proses pengerjaan. Genangan air yang lumayan tinggi yang disediakan untuk membersihkan kaki sebelum kami menuju areal dalam mesjid membuat saya harus hati-hati, bukan dengan cipratan airnya namun suhu yang bisa membuat menggigil. Sholat kali ini tidak bisa begitu kunikmati karena dinginnya suhu desa Cikole yang membuatku kurang konsentrasi.

Seusai sholat, kang Rizki lalu mengajakku untuk bergegas karena biasanya hampir tiap malam desa Cikole ini diguyur hujan. Dan benar saja, awan hitam sudah mulai bergumpal seakan ingin segera memuntahkan tetesan air didalamnya. Melihat kondisiku yang menggigil kedinginan, kang Rizki dengan rela menyerahkan jaketnya untuk kukenakan. Namun, pelan-pelan kutolak karena yang akan lebih merasakan dinginnya cuaca adalah sang pengendara bukannya penumpang. Namun karena melihat kondisiku yang begitu kedinginan, kang Rizki tetap memaksa dan akhirnya kuterima jaket itu.

Baru kusadari saat itu, ternyata jalanan Cikole amat sangat menegangkan bila dilalui dengan motor. Jalanan naik turun seakan-akan jurang dahsyat yang menunggu kami. Namun, sang pria gagah yang mengendarai motor ini tidak kelihatan gentar sedikitpun malah mengajak ngobrol

“Neng, dari kebun teh sampai sekarang kita belum kenalan lho. Perkenalkan nama saya Rizki Fadhillah. Sekarang kuliah tingkat akhir di ekonomi Unpar, kalau neng?”

” Saya mahasiswa tingkat 2 manajemen UNPAD kang, nama saya Nanda Dian asal dari Garut.” jawabku

“oh, mahasiswa UNPAD toh, wah kalo ada apa-apa tentang tugas akhir saya langsung tanya sama neng aja yah. hehe..” baru kali ini kudengar mas Rizki tertawa. Dan ini membuat percakapan hangat antara kami dimulai. Apalagi bahan skripsinya ada kaitannya dengan kuliah manajemen yang saat ini aku ambil.

Sesampainya di Lembang kami mengambil arah ke Punclut sehingga jarak yang ditempuh relatif lebih pendek. Panorama indah kota Bandungpun terlihat jelas dari sini. Lampu yang menyala di tiap sudut kota  terlihat seakan gerombolan kunang-kunang dilihat dari sini. Sesampainya di Cieumbeleuit, kang Rizki menunjukkan kampusnya di sebelah kiri. Kemudian kami sampai di simpang jalan tersebut. Tiba-tiba Pak Polisi menyergap dari belakang dan menghentikan kami.

“Maaf Pak, silahkan tunjukkan SIM anda?” Ujar Pak Polisi tersebut sambil memperhatikan kepalaku. Astaga, ternyata aku tidak memakai helm saat itu. Dan kang Rizkipun merelakan SIMnya diambil untuk segera disidangkan di pengadilan.

“Biar saja neng, gapapa. Saya juga ingin merasakan disidang karena lalu lintas kayak gimana ..” Kang Rizki berupaya menenangkan hatiku yang sudah sangat merasa bersalah saat itu.

” Eh, kosan kamu dimana neng? saya antar sampai kosan aja, mumpung udah deket UNPAD”

” Kosan saya di Cisitu Lama kang, bareng sama temen-temen ITB yang dari Garut”

Akhirnya aku diantar tepat di depan kosan, anak-anak sekosanpun bersuit-suitan gak jelas (be continued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: